
Di suatu kota kecil hidup
seorang bocah, Ali namanya tak jauh dari rumahnya berdiri kokoh pohon apel,
setiap hari sepulang sekolah Ali selalu bermain di bawah pohon apel itu,
berlari-larian, berayun di atas rantingnya, memetik buahnya, bahkan tak jarang
ia terlelap di bawah teduh dan sejuknya pohon apel itu, tiap hari tanpa
terkecuali ia selalu menghabiskan siangnya bersama pohon apel.
Suatu ketika Ali kecil tidak tampak lagi bermain di sekitar pohon apel. Pohon
apel pun bertanya-tanya, “kemanakah Ali??kenapa dia tidak menemuiku hari ini??
Beberapa hari kemudian Ali datang, dengan wajah riang sang pohon apel menyambut
“ke mana saja wahai kawanku Ali??apakah kau sudah bosan bermain denganku??”
“tidak wahai pohon apel kawanku, hanya saja aku melihat di pasar lokal ada
penjual mainan rumah-rumahan kayu, aku ingin memilikinya, namun aku tidak punya
uang untuk membelinya”ujar Ali tertunduk
Pohon apel tak tega melihat sahabatnya Ali,”kau boleh ambil semua buah apel
dari pohonku, kau bisa menjualnya di pasar, sedangkan uangnya dapat kau belikan
mainan tersebut”ujar pohon apel sambil tersenyum
“benarkah itu”Tanya Ali. “ya, ambillah semua buahku, aku tidak ingin melihatmu
bersedih kawan”tegas pohon apel
Ali yang kegirangan kemudian mulai memetik satu persatu buah apel hingga tak
tersisa satupun. “terimakasih kawan,sepulang dari pasar aku akan mengunjungimu
lagi”janji Ali riang, pohon apelpun ikut tersenyum melihat Ali beranjak pergi.
Hari berganti minggu, bulan berganti tahun, pohon apel tetap setia menunggu
kedatangan Ali kecil yang tak kunjung datang menemuinya. Suatu saat Alipun
datang, Ali kecil telah berubah menjadi remaja yang beranjak dewasa. Pohon apel
sangat senang melihat Ali “wahai kawanku Ali, lama sekali kita tidak bertemu,
apakah kau sudah bosan bermain denganku??”Tanya pohon apel
“maaf kawanku pohon apel, aku sekarang sudah bukan anak kecil lagi, aku sudah
beranjak dewasa,aku tidak bisa menghabiskan waktuku bermain-main denganmu, aku
harus mulai mencari nafkah untuk diriku sendiri”ucap Ali.
Pohon apel menyahut “lalu kenapa wajahmu bersedih kawan??apakah ada sesuatu
yang mengganggumu??bisakah aku membantumu??”
Ali kemudian bercerita “aku sekarang bekerja sebagai buruh pembersih kandang
kuda,di satu sisi aku perlu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan makan, di
sisi lain aku harus menyisakannya untuk keperluanku akan membangun rumah,
sedangkan di kota
ini harga kayu sangatlah mahal, aku tidak sanggup membelinya”
“Aku akan membantumu Ali,
potonglah semua dahan dan rantingku, pergunakan semua untuk keperluanmu
membangun rumahmu”
“tidak, itu akan melukaimu, apa jadinya kau tanpa dahan dan rantingmu??”kilah
Ali. “Tak apa kawan, aku masih bisa bertahan, aku akan ikut senang jika
melihatmu senang”jawab pohon apel
Kemudian dengan perasaan sedih kemudian Ali mulai memotong satu persatu dahan
dan ranting pohon apel. Pohon apel hanya bisa merasakan sakit yang luar biasa
di setiap dahan dan ranting yang jatuh dari tubuhnya, namun sedikitpun pohon
apel tak memperlihatkan raut wajah kesakitan, dia berusaha terus tersenyum di
depan Ali.
Setelah mengumpulkan semua dahan dan ranting yang sudah di potong Alipun
beranjak pergi untuk mulai membangun rumahnya jauh dari tempat pohon apel
berdiri.
Waktu terus berlalu, tahun berganti tahun, pohon apel yang mulai menua dan
kesepian tak pernah lagi melihat Ali sahabatnya. Tanpa di duga-duga Alipun
muncul. Bukan main senangnya pohon apel melihat kedatangan Ali. “wahai Ali
kawanku, betapa senang aku melihatmu setelah sekian lama, apakah kau lupa
padaku??mari kita bermain bersama seperti dulu”ujar pohon apel bahagia.
Ali kemudian bercerita“maaf kawanku pohon apel,aku tidak bisa, aku sedang
dilanda kesusahan, sekarang aku sudah berkeluarga, aku harus menghidupi anak
dan istriku yang sekarang tinggal di luar kota, sedangkan untuk menuju ke sana
aku harus melewati sungai yang demikian panjang, aku tidak bisa menemui mereka
setiap hari, biaya menyeberang sangatlah mahal, upahku sebagai buruh tidak
cukup untuk biaya pulang menemui keluargaku setiap hari”
Pohon apel lantas tersenyum “batang pohonku yang besar ini, kau bisa
memotongnya untuk kau jadikan perahu, dengan begitu kau akan dapat menemui anak
dan istrimu setiap hari”
“tidak, hanya tinggal batang pohonmu saja yang tersisa setelah berapa tahun
yang lalu aku memotong dahan dan rantingmu untuk ku buat rumah, aku akan sangat
berdosa jika sampai memotong batangmu”Ali menolak tawaran pohon apel
“tak apa kawan, aku akan melakukan apapun asal kau bahagia, satu-satunya
kawanku hanyalah kau, apa jadinya jika kawanku dilanda kesusahan dan aku tidak
dapat membantunya??”tegas pohon apel
Dengan desakan pohon apel akhirnya dengan berlinang air mata Ali mulai
menggergaji batang pohon apel. Batangnya pun roboh, pohon apel yang tinggal
akarpun berujar “segeralah kau buat perahu Ali, keluargamu sudah menunggu di
rumah”. Ali yang tak bisa berkata-kata kemudian meninggalkan pohon apel yang
hanya tinggal akar
Waktupun berlalu semakin cepat, pohon apel yang semakin menua masih setia
menunggu Ali yang tak kunjung datang. Bertahun-tahun kemudian, di penantiannya
yang panjang dari kejauhan tampak seorang pria tua, rambut dan jenggot
panjangnya sudah memutih. Bukan main senangnya pohon apel setelah menyadari
pria tua itu adalah Ali
“Wahai Ali, itukah dirimu kawan??”Tanya pohon apel lirih
“benar kawan, ini aku Ali kawanmu, maaf aku tidak pernah mengunjungimu
lagi”ucap Ali dengan banyak kerutan di wajahnya, memperlihatkan Ali sudah tidak
muda lagi.
“tak apa kawan, maaf aku juga sudah tidak bisa memberimu apa-apa lagi, sudah
kuberikan semua buah apel, dahan dan rantingku, serta batang pohonku, hanya
tersisa akar tua di tubuhku sekarang, apa yang bisa kuberikan lagi padamu
kawan??katakanlah, jika bisa akarku ini bisa membantumu maka cabutlah dari
dalam tanah, apapun asal aku bisa membantumu lagi”
”tidak kawan, aku sudah lelah menjalani hidup, istriku sudah meninggal 2 tahun
yang lalu, anak-anakku kini sudah berkeluarga masing-masing, aku hanya ingin
menghabiskan sisa-sisa hidupku ini bersamamu kawan, mengenang kisah-kisah indah
kita dulu” ujar Ali tersenyum
“kalau begitu mari kawan, kita habiskan saat-saat terakhir kita bersama,
berbaringlah di sampingku Ali, kita bersama-sama menikmati indahnya
langit”pohon apel pun tersenyum
Akhirnya saat itupun tiba, Ali tua menghembuskan nafas terakhir seiring matinya
pohon apel
( T A M A T )
Makna Cerita Pohon Apel :
Pohon apel itu adalah orang tua kita, (Ayah & Ibu)
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita.
Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang
ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun,
orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa
mereka berikan untuk membuat kita bahagia.
Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat
kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua
kita.
Ingat sangat besarnya jasa orang tua kepada saya, anda, tidak dapat
tergantikan meski dengan pengorbanan yang teramat besar sekalipun. Ibu
harus menahan sakitnya antara hidup dan mati untuk melahirkan kita.
Ayah harus bekerja siang malam tak kenal waktu untuk mencukupi
kebutuhan hidup kita sehari-hari. Tak jarang beliau berangkat bekerja
pada pagi hari untuk kemudian kembali ke rumah ketika matahari sudah
tenggelam. Tapi, sebagian dari kita, termasuk saya memang hanya bisa
membalas jasa mereka dengan seadanya.
Pernahkah kita mencoba memandang dari sisi lain? Betapa kasihannya
mereka, orang tua kita yang mati-matian mencari nafkah demi kelangsungan
masa depan kita. Mereka kehabisan waktu untuk menikmati kebersamaan
bersama anak-anaknya.
Saat remaja tiba mungkin kenakalan kita selalu dinasehati oleh orang
tua kita, namun nasehat itu selalu kita abaikan dan orang tua kita hanya
bisa menghela nafas panjang.
Saya masih teringat ucapannya “Suatu hari kelak , kamu akan menjadi
ayah / Ibu dan akan merasakan pula tanggung jawab yang ada di pundakmu”
Saat si anak sudah beranjak dewasa, mereka harus melepas anak-anaknya
untuk menjalani hidup baru bersama istri atau suami masing-masing.
Saat ini, mungkin saya,anda baru bisa merasakan, apa sebetulnya yang
pernah orang tua kita rasakan selama membesarkan kita, dan bersyukurlah
jika anda masih mempunyai Ayah & Ibu yang masih menasehati anda
walaupun jauh dari hadapan anda, dibandingkan dengan teman, sahabat anda
yang telah kehilangan Ayah / Ibu mungkin kedua orang tuanya sudah
meninggal.
Katakan kepada mereka bahwa anda sangat mencintainya , dan bahagiakanlah kedua orang tuamu selagi mereka hidup.
(sembah sujud dari anakmu untuk Ibu & Ayahku Tercinta).